Apa Kabarmu Hari Ini?
10 September 2010
"Tidak
baik bagi seor[a]ng yang berilmu berdiam diri dengan ilmunya. Dan tidak halal
bagi orang bodoh diam dalam kebodohannya." -Muhammad bin Ka'ab
Sebelum dimulai.. mohon
map lahir batin ya.. atas kata yang terucap, tingkah yang bikin sakit hati, dan
hutang yang.. sebaiknya di ikhlaskan saja. Hhe..
Ehm. Besok saya mau
mudik, dan entah kenapa tiba-tiba keinget buka bersama DKM kemaren yang saya
nggak ikut. Saya baru sadar, karena sebenernya buka bersama kemarin bakal jadi
buka bersama terakhir saya dengan DKM Ar-Rahmah untuk beberapa tahun kedepan.
Tahun depan saya sepertinya nggak bisa ikut bukber bareng DKM lagi, begitu pula
tahun depannya.
Sepertinya, saya nggak
bisa melihat anak-anak kelas X dan kelas XI pakai id dkm lagi, nggak bisa
langsung melihat dan membaca buku-buku pods mereka. Dan mungkin mulai tahun
depan (untuk beberapa waktu/tahun) saya nggak bisa bertemu kalian, atau ke
smansa lagi.
Kenapa?
Kalau ditanya kenapa.. hmm.. kenapa ya? Soalnya
saya udah janji tentang sesuatu. Khusus monox, ndu, uchenk, ekong, gharu dan
iin.. kalian mungkin inget janji yang dulu disepakati secara sepihak (saya
sendiri), yang setelah acara “curhat” saya ditarik-tarik kakinya untuk foto
bareng di depan sekret.
Nah, karena saya nggak
bisa bicara seperti monox dan ndu saat buka bersama kemarin, dan saling memberi
petuah.. jadi saya lakukan disini aja ya. Saya hanya ingin memberikan pesan
sederhana. Dan saya harap kalian bisa memahaminya. Saya bukan orang yang cukup
ideal untuk kalian dengar nasihatnya, saya hanya ingin kalian menjadi jauh
lebih baik dari saya. Semuanya disimpulkan dalam sebuah pertanyaan sederhana :
“Apa
Kabarmu Hari Ini?”
Bayangkan suatu hari di
sebuah libur lebaran, suatu saat ketika kamu sudah dewasa. Saat itu pukul 1
pagi tetap kamu belum bisa tidur. Jadi kamu putuskan untuk duduk-duduk didepan
hotel dan mengecek email.
Lalu dua orang pemuda
melintas. Tampaknya mereka ingin segera pulang dan tidur, setelah menghabiskan
waktu untuk bersenang-senang. Yang satu memandang ke arahmu dan mencoba
berbisik pada temannya, tetapi dengan suara yang cukup bisa terdengar dari
tempatmu, “Menyedihkan sekali. Pria itu datang kemari untuk berlibur tetapi dia
tidak bisa lepas dari emailnya. Dia pasti tidak bisa menikmati liburan dua
minggu ini.”
Kamu hanya diam.
Diperlukan segala daya dan kesabaran untuk tidak membalasnya dengan berkata,
“Bukankah lebih terdengar menyedihkan jika anda memiliki pekerjaan dan
menghabiskan waktu dua minggu untuk menghindari pekerjaan yang harus silakukan
selama 50 minggu dalam setahun?” –tetapi kamu rasa mereka pasti nggak akan
menjawabnya.
Paham maksudnya?
Kamu menikmati pekerjaan
yang kamu lakukan, dan kamu nggak merasa mengecek email untuk kepentingan
pekerjaan itu membuat kamu menderita. Karena kamu menikmatinya, kamu nggak
merasa tersiksa bahkan walaupun saat kamu tidur hanya 3 jam sehari.
Tapi, apakah kedua pemuda
yang menghabiskan waktu liburan dengan bersenang-senang itu juga menikmati
pekerjaan mereka? Bisa jadi mereka
bersenang-senang justru untuk menghindari pekerjaan yang nggak mereka nikmati.
Sekarang, pikirkan ini : mana yang kamu kira merasa
bahagia, orang yang waktunya digunakan untuk berbagai aktivitas yang dia sukai
walau dia terlihat cukup sibuk, atau orang yang waktunya lebih banyak
menganggur tapi dia nggak menyukai semua kegiatan yang dia lakukan?
Saya berani jamin, orang petama yang lebih merasa
bahagia. Dan sebenanya, bukan hanya rasa bahagia saja yang ia dapat, tapi juga
satu hal lain yang sangat berarga : pengaruh. Dan karena dia berpengaruh, maka
dia lebih berpotensi untuk membuat perubahan di akfitas2 mereka.
Lalu, apa yang kamu sendiri rasakan? Apakah kamu
menganggap sekolah, eskul, organisasi, les atau bahkan pods adalah beban? Atau
malah menganggap semua kegiatan-kegiatan kamu tadi sebagai tantangan, atau
sesuatu yang menarik?
Walaupun semua kegiatan kamu nggak begitu melibatkan
banyak orang, sebenarnya kamu cukup beruntung memiliki kegatan yang
mengharuskanmu mewujudkan perubahan. Karena kamu sedang memimpin, membawa
orang-orang dibelakangmu ke sebuah tempat tujuan.
Pikirkanlah sejenak orang-orang yang kamu kenal, yang
memiliki komitmen, merasa puas, dan selalu berangkat dari rumah dengan penuh
semangat. Saya berani bertaruh, sebagian besar dari mereka membuat perubahan.
Mereka menentang cara-cara lama yang merugikan dan mendorong sesuatu untuk
maju-sesuatu yang mereka yakini. Mereka memimpin.
Sebenarnya ini berlaku dalam semua konteks kegiatan apa
saja. Tapi sekarang, saya akan berbicara tentang pods. Tentang DKM ArR-Rahmah
kita.
Nasihat, “Hidup terlalu singkat..” cukup sering
diulang-ulang sehingga menjadi klise, tapi kali ini saya berungguh-sungguh.
Hari-hari kamu terlalu berharga untuk terus-menerus diisi dengan perasaan
menderita dan menjadi seorang yang menyerah pada keadaan. Apa jadinya bila
semua orang seperti ini?
Bisa saja, peraturan “tidak boleh menggunakan jilbab di
lingkungan sekolah” masih tetap berlaku sampai sekarang, jika kakak-kakak
alumni dkm kita dulu tidak berani bertindak dan hanya pasrah.
Bisa saja, sampai saat ini tidak ada DKM Ar-Rahmah bila
tidak ada satupun yang berinisiatif membentuk smansa yang lebih baik dan
islami.
Bisa saja, sampai saat ini tidak ada majalah BIRU bila
ketua DKM saat itu (a’ jati) tidak merasa penting publikasi media massa islami
di smansa.
Bisa saja, sampai saat ini tidak ada tadarus quran bila
tidak ada yang mau gigih karena upaya mewujudkannya yang ribet dan bikin kesel.
Menghabiskan waktu kita setiap hari dengan terpaksa dan
biasa-biasa saja bukan hanya bodoh tapi juga menyakitkan.
Daripada menunggu hari libur berikutnya, sebaiknya kita
mengisi waktu-waktu kerja dan sekolah dengan semangat dan produktif.
Daripada memikirkan kapan
PODS selesai, sebaiknya kita merancang masa pods ini dengan menganggapnya
tantangan yang menyenangkan, dan ajang membuat terobosn baru did km sehingga
tidak perlu harus melarikan diri darinya.
Daripada mengeluh harus
menulis kultum setiap hari dibuku tugas, kenapa nggak coba berpikir membuat
sebuah kompilasi kultum terbaik.. yang akan sangat bermanfaat nantinya ketika
dibaca.
Dan ketika seseorang berhasil
melakukannya, berarti dia menjadi salah satu orang yang paling dibutuhkan dan
sangat jarang, seorang termostat. Saya
bilang termostat, bukan termometer.
Termostat jauh lebih bernilai daripada termometer.
Sebuah termometer biasanya untuk mengukur sesuatu yang
dianggap bermasalah. Termometer adalah indikator, benda yang sangat berharga di
sebuah tambang batu bara. Sekelompok orang atau organisasi bisa dipenuhi
manusia-manusia termometer. Mereka bisa mengkritik, menunjuk-nunjuk, atau
mengeluh.
Termostat, di sisi lain, mengelola dan menyeimbangkan
keadaan dengan dunia luar. Setiap organisasi membutuhkan paling tidak satu
termostat. Ia adalah seorang pemimpin yang mampu melakukan perubahan untuk
merespons dunia luar, dan melakukannya secara konsisten sepanjang waktu.
Yang menakjubkan adalah bahwa kehidupan semacam ini tidak
hanya lebih menarik dirancang, tetapi juga lebih banyak memberi peluang
keberhasilan dan rasa bahagia.
Jangan biarkan lingkungan mengontrol kita, berpikirlah
lain, kalau perlu yang gila. Buat perubahan.
Tunjukkan kalau DKM Ar-Rahmah kita bisa melakukan lebih
dari yang mereka pikirkan.
Be yourself. Create.
Inspire, and be inspired. Grow. Laugh. Learn. Love.
Jadi.. Apa Kabarmu hari ini?
(re-post seizin penulis)
Komentar
Posting Komentar